Vereniging Indische Compagnie
KCM – 1 November 2005
http://www.kompas.co.id/kompas
Orientasi dagang yang amat kuat mendasari gerak Kabinet Indonesia Bersatu, menghasilkan gejala sosial-politik yang sama dengan aktivitas Verenigde Oost-Indische Compagnie. Karena itu, layak bila KIB dijuluki Vereniging Indische Compagnie, VIC, atau VOC Baru.
Fungsi VOC dan VIC sama, yakni mengisap kekayaan negara untuk kepentingan segelintir elite seraya menciptakan kemelaratan pada tataran rakyat. Bedanya, VOC berisi orang Belanda, VIC berisi bangsa Indonesia sendiri (Indische). Bila dikaitkan dengan semangat persatuan dalam Sumpah Pemuda 1928, ada alasan kuat untuk menyatakan aktivitas para elite saat ini menjauh dari semangat bersatu.
Hakikat Sumpah Pemuda adalah pernyataan sikap cinta Tanah Air. Kata satoe pada tiap butir sumpah itu mengacu pada kesadaran tidak adanya jarak atau perbedaan di antara kita terhadap nasib dan masa depan bangsa Indonesia. Namun, hadirnya VIC menguasai arena pembuatan keputusan di negara kita saat ini membuat pemerintahan Yudhoyono mengingkari roh Sumpah Pemuda 1928.
Logika dan semangat kapitalisme yang eksploitatif membuat kata satoe mengalami degradasi makna yang amat dahsyat akhir-akhir ini. Semangat itu pula yang mengakhiri kisah VOC secara menyedihkan, baik bagi organisasi itu sendiri maupun masyarakat Hindia Belanda. Dampaknya bergaung hingga kini. Terasa ironis bila gaung yang mulai melemah itu kembali ditabuh lagi oleh VIC.
Belajar dari VOC
Dari sejarah yang ditulis Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (1992), dan Houben, Kraton and Kumpeni (1994), diketahui, motivasi ekonomi adalah penggerak utama bangsa-bangsa Eropa menjajah kita. Metode utamanya mengeksploitasi konflik antarpenguasa lokal yang bernafsu meluaskan basis kekuasaan namun tidak memiliki cukup dana untuk melakukannya.
Banyak hal bisa dijadikan basis kekuasaan. Tapi, dari catatan Ricklefs dan Houben diketahui kombinasi basis politik dan ekonomi cenderung mengarah pada kelahiran rezim otoriter bila dibanding kombinasi lain, semisal politik dan budaya.
Benarkah sejarah mencatat, pergerakan politik di Indonesia diawali para pedagang melalui Syarikat Dagang Islam (SDI)? Benar. Tetapi, SDI melawan sistem, sementara VIC mengikuti bahkan mengamini sistem yang berlaku. Hingga sama dengan VOC, VIC justru menjadi Negara. Jangan heran bila konflik internal merebak dalam VIC sebab kompetisi yang harusnya terjadi di luar Negara kini dibawa masuk ke dalam wilayah Negara.
Apa ciri-ciri VOC sehingga kita melabelkan KIB sebagai VOC Baru?
Mereka masuk ke dalam politik dengan semangat berdagang, yang bermuara pada nafsu monopoli. Logika berdagang, beli sedikit untuk melakukan ekspansi, benar-benar diterapkan. Mereka memanjakan penguasa lokal dengan kenyamanan ekonomi, utamanya untuk berperang meluaskan kekuasaan menghadapi rivalnya.
Cara ini menciptakan jurang yang kian dalam dan lebar antara penguasa dan rakyat. Tetapi, ini terkait strategi devide et impera untuk mewujudkan hasrat monopolinya. Bibit-bibit konflik ditebar pada tataran elite maupun rakyat melalui perenggangan ikatan sosial rakyat Hindia Belanda, hingga ketergantungan pada Negara pun menjadi amat besar.
VOC bukan institusi independen. VOC dikendalikan 17 heeren (tuan) di Eropa. Mereka secara intensif melakukan rapat dan mengendalikan VOC yang beroperasi di Hindia Belanda. Jangan lupa, para opsir VOC adalah orang-orang ”terbuang” dari pergaulan di Eropa. Hingga moralitas untuk berpikir kepentingan publik benar-benar tidak dimiliki.
Persaingan di antara para saudagar berbasis logika kapitalis menciptakan praktik korupsi dalam tubuh VOC. Sejarah mencatat, korupsi dan inefisiensi birokrasi menjadi faktor utama ambruknya VOC dan meninggalkan kemelaratan berkepanjangan pada masyarakat Hindia Belanda.
VOC baru
Mungkin Presiden Yudhoyono terobsesi nasihat Osborne dan Gaebler (1993) tentang perlunya menanamkan semangat kewirausahaan di jajaran birokrasi pemerintah. Namun, konsep Reinventing Government tidak identik dengan menjadikan seluruh urusan pemerintahan sebagai commercial goods.
Wajah KIB menjadi VIC mungkin disebabkan kesalahan meletakkan segala urusan publik sebagai commercial goods. Harusnya DPR mengoreksi kesalahan ini. Namun, seperti dalam VOC, para penguasa politik di DPR memerlukan dukungan dana guna memperluas kekuasaan. Maka, jangan heran bila teriakan mereka hendak menolak tambahan biaya operasional Rp 10 juta atau interpelasi terhadap kenaikan harga BBM tidak lebih dari wacana politik yang tidak bermakna pada pertolongan terhadap nasib rakyat Indonesia.
Para nieuwen heeren (tuan-tuan baru) yang mengendalikan VIC terus memanjakan pusat-pusat kekuasaan. Misalnya, menaikkan dana operasional Presiden dan Wapres. Bersamaan dengan itu, menebar bibit-bibit konflik agar pusat-pusat kekuasaan lebih mudah dikooptasi. Sandiwara digelar melalui pernyataan simpang-siur. Presiden pura-pura terkejut karena tidak dilapori. Lalu memerintahkan untuk merevisi dana Rp 1,4 triliun. Logika saja, mana mungkin Presiden tidak tahu keputusan penting yang diambil dalam sidang kabinet? Kenyataannya, nilai anggaran tetap, alasannya yang diubah.
Bagaimana pada tataran rakyat? Sumbangan ala kadarnya Rp 100.000 per tiga bulan pada rakyat miskin tidak membantu mereka keluar dari kemiskinan, malahan memunculkan konflik horizontal. Mereka yang merasa sama melaratnya, namun tidak kebagian, mengamuk. Korbannya para ketua RT, pekerjaan sukarela yang kini berisiko tinggi. Ada Ketua RT bunuh diri tidak tahan diteror warganya yang miskin dan tidak terhitung yang dibawa ke rumah sakit karena stres berat.
Kini instrumen pelekatan solidaritas sosial terbawah (RT) rusak parah oleh bantuan dana yang belum tentu terus berlanjut. Sejarah akan mencatat, selain memperbanyak orang miskin, prestasi pemerintahan SBY-JK adalah merenggangkan ikatan sosial masyarakat Indonesia.
Sepak terjang VIC seolah menutup mata terhadap realita rakyat. Padahal, saat krisis melanda, rakyat menyelamatkan negara dari revolusi sosial dengan menciptakan pekerjaan bagi mereka sendiri (Tadjudin, 2005). Lalu apa salah rakyat Indonesia pada negaranya? Apakah mereka harus percaya telah salah memilih pemimpin?
Simak saja. Dasar kebijakan hanya keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu singkat bagi nieuwen heeren. Tidak mereka sadari, langkah ini menciptakan konsolidasi rakyat korban VIC. VIC menggiring legislatif, eksekutif, dan yudikatif untuk “Bersatu Kita Bisa Korupsi”. Kesejahteraan elite ditingkatkan terus dengan logika “laba BBM”, sementara rakyat ditindih beban dengan logika ”kerugian BBM”.
Kesenjangan di segala bidang ciptaan VIC, disertai penyemaian bibit-bibit konflik di seluruh struktur sosial kemasyarakatan, hanya mengakumulasi ketidakpercayaan rakyat pada pemerintah dan berujung pada terbentuknya bom sosial yang amat masif.
Koreksi harus dilakukan. Pada tataran struktur reshuffle, restrukturisasi, redefinisi, reorientasi, dan membentuk presidium kabinet harus dilakukan SBY. Pada tataran kebijakan harus merapatkan jarak pendapatan tertinggi dengan terendah dan mengganti kebijakan bagi-bagi uang dengan penciptaan proyek padat karya.
Di atas segalanya, perubahan gaya kepemimpinan SBY-JK dari “berduel menjadi berduet”. Bagi Yudhoyono, memerlukan keberanian luar biasa untuk melakukannya setelah dimanjakan oleh VIC.
Alm. Riswandha Imawan adalah mantan Guru Besar Ilmu Politik UGM

